Persiapan Pidato Yang Baik dan Benar

70 views

Persiapan Pidato Yang Baik dan Benar - Apapun yang kalian lakukan, tahapan persiapan pidato amat penting. Sebab, berhasil atau tidaknya suatu kegiatan sangat bergantung pada persiapan yang dilakukan. Apabila persiapan apa adanya, apalagi tanpa persiapan sama sekali kemungkinan gagal sangat besar. Sebaliknya, jika persiapan sudah dilakukan dengan baik, lima puluh persen sudah berhasil. Untuk mencapai 100 % keberhasilan, tinggal menambahnya dalam pelaksanaan.

Dalam berpidato juga demikian. Persiapan pidato tidak dapat dilakukan sambil lalu. Persiapan pidato harus dilakukan dengan sungguh - sungguh dalam waktu yang cukup lama. Ingat nasihat orang bijak "Siapa yang tampil di podium tanpa persiapan, dia akan turun tanpa penghormatan." Kata "siapa" dalam nasihat tersebut mengacu kepada semua orang. Baik sudah berpengalaman maupun yang belum. Persiapan harus lebih sungguh - sungguh lagi bagi pembicara pemula yang masih dalam taraf belajar. Bagaimana cara mempersiapan pidato?

1. Pembicara harus mempersiapan mental. Artinya, dia harus benar-benar berminat. jangan setengah mau atau setengah tidak mau. Apabila pembicara setengah hati, dia pasti tidak sungguh -sungguh dalam mempersiapakan pidato. Sebaliknya, jika pembicara memang mau/minat, sengan sukarela dan penuh semangat Ia mau belajar dan berlatih.

2. Mencari tahu berbagai hal yang berkaitan dengan pidato. Misalnya, bagaimana cara membuka pidato yang baik, bagaimana menguraikan isi pidatoyang menarik, dan bagaimana menutup pidato dengan cara yang mengesankan. Semuanya itu perlu diketahui dan dipelajari oleh calon pembicara.

3. Calon pembicara perlu mengetahui secara lengkap masalah yang akan dipidatokan (isi pidato). Mungkin isinya hanya ucapan selamat datang dan terima kasih, menyerahkan/menerima sesuatu, penjelasan mengenai suatu masalah, berbagai alasan untuk menyakinkan pendengar, dan lain-lain.

Isi pidato sebaiknya sudah diketahui beberapa hari sebelum pelaksanaan pidato. Sedikitnya seminggu sebelumnya. Isi pidato itu direnungkan, dipikirkan, dan diurutkan mana yang harus disampaikan pada urutan pertama, kedua, dan seterusnya.

Menjelang tidur calon pembicara memikirkan isi pidato itu, membayangkan cara menyampaikannya, dan kemudian membawanya dalam mimpi. Bangun tidur, saat akan mandi isi pidato itu dimunculkan lagi. Apabila ada kesempatan bertemu dengan teman-teman, isi pidato itu diangkat menjadi pokok pembicaraan dan jika perlu dapat didiskusikan. Dengan cara begitu, isi pidato sudah benar-benar meresap dalam hati sanubari calon pembicara. Begitulah sebaiknya persiapan pidato, terutama pidato yang cukup panjang. Untuk pidato pendek, persiapannya tentu tidak sebanyak pidato panjang, tetapi tetap harus dipersiapan sungguh-sungguh agar calon pembicara benar-benar menguasai isi pidato.

Darimana isi pidato itu dapat dikuasai? Banyak cara yang dapat dilakukan. Misalnya, bertanya kepada orang yang tahu, membaca (buku, koran, atau majalah), serta mengingatingat pengetahuan dan pengalaman sendiri yang sesuai dengan isi pidato. Semua keterangan yang diperolehnya itu dicatat, lalu disusun menurut urutan mana yang dilakukan dan mana yang akan disampaikan berikutnya.

Kemudian dibaca diulang-ulang dan diperbaiki. Biasanya yang perlu diperbaiki susunan kalimat, pilihan kata-kata yang digunakan atau urutan pokok-pokok pikirannya. Mungkin ada penambahan, pengurangan, atau pergantian pokok-pokok pikiran dalam naskah pidato. Jika sudah dirasacukup baik, naskah pidato itu perlu dibaca berulang-ulang dengan intonasi yang baik.

Intonasi adalah pengucapan yang "bergelombang" tidak rata. Intonasi menyangkut empat ha, yaitu tinggi-rendah, keras-lemah, cepat-lambat, dan perhentian. Kadang-kadang pembicara berbicara cepat atau kadang-kadang lambat untuk mendapatkan intonasi yang baik. Kata tertemntu diucapkan keras dengan nada tinggi, kata yang lain diucapkan lemah dengan nada rendah. Tiap-tiap akhir kelompok kata tertentu disertai perhentian sesaat, tetapi ada pula yang harus berhenti agak lama. Semua itu perlu diatur dengan sebaik-baiknya supaya intonasinya baik. Intonasi memang perlu diperhatikan karena intonasi yang baik selain memperjelas arti juga menyebabkan suara pembicara enak didengar. Sebaliknya, intonasi yang jelek menyebabkan pendengar cepat bosan.

Apabila belum baik, pembicara tidak boleh bosan mengulanginya sekali lagi dan sekali lagi. Jika perlu, suara direkam kemudian didengarkan kembali untuk mengetahui bagianmana yang sudah baik dan bagian mana yang belum baik. Sebaiknya ada teman yang mendengarkan dan meberikan penilaian mana yang sudah baik dan mana yang belum baik. Yang belum baik tentu kita perbaiki.

Jika perlu pembicara berlatih didepan cermin besar agar agar mengetahui gerak-gerik tubuhnya, ekspresi wajahnya, dan lain-lain. Pembicara dapat memperbaiki pidatonya dengan cara berpidato di depan teman, di depan kaca, dan merekam suaranya sehingga pidatonya semakin baik.

Inilah yang dimaksud persiapan yang sungguh-sungguh. Apabila sudah yakin bahwa pidatonya sudah baik, pembicara sudah siap naik podium. Berbekal niat yang kuat, penguasaan pengetahuan yang memadai, dan keterampilan yang diperoleh melalaui peltihan, pembicara dapat tampil mantap. Hasilnya, pidatonya tentu tidak akan mengecewakan pendengar. Semua itu berkat persiapan yang matang. Itulah manfaat persiapan dalam pidato.

Leave a reply "Persiapan Pidato Yang Baik dan Benar"

Author: 
author
Seorang Blogger senang menulis dan berbagi.