Perbedaan PTK dan Penelitian Formal

PTK selaian meningkatkan mutu proses pembelajaran juga bermaksud untuk meningkatkan unjuk kinerja guru. Pewaris langsung dari PTK adalah para murid. Ini berarti bahwa indikator -indikator keberhasilan yang relevan adalah perilaku siswa, baik dalam arti respon siswa terhadap perlakuan pembelajaran maupun kinerja pembelajaran siswa. Oleh karena itu, PTK harus dapat memberi tekanan terhadap kedua tujuan tersebut.

Di pihak lain, apabila dilihat dalam konteks yang lebih luas dan dalam kurun waktu yang lebih panjang dapat membuahkan dampak dalam bentuk perbaikan praktis karena diramu kedalam format pembelajaran yang utuh. Artinya, intervensi terhadap proses pembelajaran sebagaimana diamanatkan dalam PTK hanya mungkin terwujud apabila intervensi terhadap satu atau lebih elemen yang disebutkan diatas diwujudkan dalam bentuk skenario pembelajaran yang berbeda dari yang sebelumnya dan telah mapan dilaksanakan sehingga berdampak mengubah kurikulum eksperiensial yang dihayati siswa.

PTK juga merupakan wujud pengembangan kurikulum atau perangkat lunak pembelajaran yang dirancang untuk mengatasi kelemahan pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan agar pembelajaran dapat berlangsung secara lebih eksplisit dan sistematis.Artinya, keseluruhan pproses perbaikan kinerja dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah penelitian ilmiah seperti telah dikemukakan diatas, meskipun tentu saja dengan menggunakan paradigma yang berbeda dari yang lazim diberlakukan dalam penelilitian formal khususnya paradigma positiviski yang sangat kental dengan wacana kajian eksperimental, sedangkan penyebarluasan laporannya dilakukan sebagai bagian dari interaksi dan tilik kesejawatan (peer review) yang yang kondusif bagi pertumbuhan profesional. Dengan kata lain, PTK adalah suatu reflective practice made public.

Dalam hubungan ini, guru yang berkolaborasi dengan PTK harus mengembangkan peran ganda, yakni sebagai praktisi yang dalam pelaksanaan penuh keseharian tugas-tugasnya juga sekaligus secara sistematis meneliti praktisnya sendiri.  Sebagaimana telah disyaratkan sebelumnya, apabila terlaksana dengan baik, maka exerice ini akan memberikan urunan nyata bagi terbentuknya kultur meneliti dikalangan dan merupakan suatu langkah strategis dam profesionalisasi  jabatan guru. Ini juga berarti bahwa pelecehan profesi dalam bentuk penyediaan jasa borongan untuk “membuat daftar angka kredit” dalam rangka proses kenaikan pangkat fungsional guru yang menggejala belakangan ini dapat diakhiri untuk selama-lamanya.

Perbedaan karakteristik penelitian formal dengan PTK dapat di rangkum sebagaimana tertera dalam tabel.

Selanjutnya masih dalam kisaran perbedaan PTK dengan penelitian formal, PTK menerapkan metode yang bersifat lebih “longgar” dalam arti tidak terlalu memperhatikan pembakuan instrumentasi. Namun, dipihak lain, sebagai kajian yang taat kaidah (discliplined inquiry), pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objekktivitas, sedang imparsialitas dipegang teguh sebagai acuan dalam analisis dan interprestasi data.

Dengan kata lain, sebagaimana halnya dalam penelitian formal , PTK dilancarkan buka untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun jangkauan keterterapannya (rang of generalizability) lebih terbatas. Terlebih-lebih lagi, proses, temuan, dan implikasinya itu didokumntasikan secara cermat sehingga terbuka bagi tilik kesejawatan.

Berdasarkan paparan diatas, dappat ditarik benang utamanya bahwa classroom action research merupakan bentuk penelitian yang bersifat refleksi dengan melakukan tindakan-tindakan tentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran dikelas secara lebih profesional.

Dengan melaksanakan PTK, para guru, pendidik dan peneliti yang terlibat akan secara langsung mendapatkan metode yang tepat dan dibangun sendiri melalui tindakan yang lebih diuji kemanjurannya dalam proses pembelajaran.

PTK sebagai bentuk penilitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya.

Ada beberapa karakteristik yang dapat dicermati dari PTK dibandingkan dengan penelitian pada umumnya;

  1. PTK dilihat dari segi problema yang harus dipecahkan, memiliki karakteristik penting yang harus dicermati, yaitu problema yang diangkat untuk dipecahkanmelalui PTK harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru.
  2. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas yaitu adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar-mengajar di kelas.
Secara sedarhana dapat disimpulkan bahwa perbedaan penelitian dengan penelitian tindakan kelas hanya terletak pada tempat dan waktu pelaksanaannya. Didalam PTK pasti ada unsur dikelasnya atau disekolah, sedangkan penelitian tindakan tidak harus dikelas sebab penelitian tindakan merupakan penelitian yang dilaksanakan secara kolaborasi oleh aktor peneliti dan aktor yang telibat dalam penelitian tindak kelas, merupakan penelitian yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, dengan guru dan kepala sekolah termasuk pengawas sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas.
PTK menerapkan metodologi secara lebih “longgar”, dalam arti tidak terlalu memperhatikan pembakuan instrumentasi. Namun, dipihak lain, sebagian kajian yang taat kaidah (discliplined inquiry), pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas, sedangkan imparialitas dipegang teguh sebagai acuan dalam analisis dan interprestasi data. PTK bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self-justification), malainkan untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun jangkauan keterterapannya (rang of generalizability) lebih terbatas.
Perbedaan PTK dan Penelitian Formal | Ambar | 4.5