Mengapa Perlu Penelitian Tindak Kelas?

Sejak Thomas Samuel Kunh mengemukakan pandangan bahwa ” Kamajuan ilmu dapat terjadi apabila paradigma lama diganti dengan yang baru”, maka pada tahun 1960-an terjadilah kemajuan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial, humaniora, maupun teologi. Revolusi ilmiah Kuhn telah melakukan koreksi tentang kelemahan-kelemahan penelitian ilmu yang bersifat prosivistik yang menyebabkan penelitian-penelitian ilmu di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora cenderung menggunakan paradigma “baru” yang berbeda-bedadengan paradigma positivisme.

Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah kegiatan terprogram yang nampak pada orientasinya yang meletakkan sekolah sebagai lembaga rekontraksi sosial atau pusat pengembangan budaya. Menurut Robert C. Bogdam bahwa tujuan penelitian dapat dikategorikan dalam tipe, yaitu penelitian dasar dan penelitian terapan, dimana keduanya dapat berlaku di bagian pendidikan. Dalam penelitian kualitatis di bidang pendidikan ada tiga tipe yaitu evaluation research, pedagogial research dan action research.

Action research merupakan salah satu persektif baru dalam penelitian pendidikan yang mencoba menjembatani antara praktik dan teori dalam bidang pendidikan. Action research merupakan penelitian tentang suatu realitas sosial dan bermaksud untuk melakukan perbaikan tentang realitas sosial.Dalam model penelitian ini, si peneliti bertindak sebagai observer sekaligus sebagai partisipan.

Action research sebagai salah satu metode penelitian mempunyai ciri  sebagai berikut :

  1. Sebagai suatu kegiatan perbaikan yang merupakan suatu program berdasarkan penelitian.
  2. Pelaku kegiatan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu pelaku penelitian yang berusaha mendapat “teori mendasar” dan kelompok petugas yang berfungsi sehari-hari di dalam lembaga yang bersangkutan.
  3. Berusaha mengumpulkan informasi tentang sistem perilaku maupun komponen dalam kegiatan yang lengkap dan manfaat dalam perbaikan sosial
  4. Berusaha untuk dapat menyusun tipe prilaku umum yang bermanfaat bagi perbaikan realitas sosial.
  5. Merupakan alat untuk membuat masyarakat sadar akan keuatan yang mereka miliki secara utuh dan rinci.
  6. Menghasilkan laporan yang berisi tentang data perilaku, konsep, dan teori “mendasar” awal yang bersifat kronologis.
  7. Action research menghasilan dua faedah ganda, yaitu yang pertama adalah lembaga yang menjadi sasaran penelitian dapat tumbuh menjadi lembaga perbaikan realitas sosial dan yang kedua adalah pelaku penelitian memperoleh pengertian mendalam tentang realitas sosial yang mereka teliti.
Tujuan dari action research adalah melakukan perbaikan realitas sosial berdasarkan data kualitatif yang telah diperoleh daj berdasarkan pendekatan non-positivistik. Metode yang sering digunakan adala studi domumentasi, observasi dan persitipasi observasi serta wawancara. Action research didahului oleh peneliyian pendahuluan (eksplorasi) yang bertujuan untuk mendapatkan berbagai permasalahan lapangan dan berbagai kemungkinan pemecahannya. Hasil akhir penelitian pendahuluan ini adalah menghasilkan suatu desain action yang kemudian diubah menjadi proposal perbaikan keadaan.
Seorang peneliti bisa menyampaikan pemecahan masalah berdasarkan praktik setelah ia memperhitungkan pola prilaku umum, adat, norma, dan sistem nilai yang berlaku di lapangan. Dalam praktiknya, penelitian dapat melakukan partisipasi observasi yang berguna untuk menyusun rapor, namun peran peneliti terikat batasan-batasn, yakni :
  1. Keterlibatan hanya sebatas memberikan pencerahan masalah, tidak ikut kompetisi.
  2. Tetap berpegang pada etika penelitian, tiidak memihakk.
  3. Penelitian sebagai pendorong pemecahan masalah, tidak mengambil posisi pemimpin dalam masyarakat.
Nah, itu mengapa diperlukannya penelitian tindakan kelas. Tujuannya agar kita bisa mengetahua masalah-masalah yang ada dan memecahkan masalah tersebut.
Mengapa Perlu Penelitian Tindak Kelas? | Ambar | 4.5