Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas itu terkait dengan komponen pembelajaran yang antara lain ;

  1. Inovasi pembelajaran.
  2. Pengembangan kurikulum dan tingkat sekolah dan tingkat kelas.
  3. Peningkatan profesionalisme guru.
Dalam inovasi pembelajaran, guru perlu selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan gaya mengajarnya agar ia mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntunan kelasnya. Guru selalu berhadapan sisiwa yang berbeda dari tahun ketahun. Oleh sebab itu, jika guru melakukan penelitian tindakan kelas dari kelasnya sendiri , berangkat dari persoalannya sendiri, dan kemudian menghasilakan solusi terhadap persoalan tersebut, maka secara tidak langsung ia telah terlibat dalam proses inovasi pembelajaran. Dengan cara seprti ini, inovasi pembelajaran benar-benar berangkat dari realistis permasalahannya yang dihadapi oleh guru dalam mengajar dikelas. Inovasi pembelajaran seperti itu dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika di bandingkan dengan penatara-penataran untuk tujuan yang serupa. Hal ini disebabkan penataran tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan persoalan pembelajaran dikelasnya.

Sebaliknya, penelitian tindakan kelas akan selalu relevan dengan kebutuhan guru untuk mengadakan inovasi dalam peroses pembelajaran. Di samping penelitian itu berangkat dari realitas kegiatan guru, dalam proses penelitian tindakan kelas sangat terbuka bagi guru untuk merumuskan masalahnya sendiri, meneliti sendiri, dan  kemudian mengevaluasi sendiri bagi efektivitas model-model pembelajaran dikelasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rapoport (1970) yang menyatakan bahwa penelitian tindakan memiliki kepedulian terhadapa pemecahan persoalan-persoalan praktik yang dihadapai oleh manusia dalam pekerjaannya sehari-hari.
Dalam aspek pengambangan kurikulum, penelitian tindakan kelas dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru. Guru kelas juga harus bertanggung jawab terhadap pengembangan kurikulum dalam level sekolah dan kelas. Untuk kepentingan pengembangan krikulum pada level kelas, penelitian tindakan kelas akan sangat bermanfaat jika digunakan sebagai salah satu sumber masukan. Hal ini demikian karena menurut Elliott (1992), proses reformasi kurikulum secara teoriktik tidak netral. Sebaliknya, proses itu akan dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang saling berhubungan mengenai hakikat pendidikan, pengetahuan, dan pengajaran. Penelitian tindakan kelas dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat tersebut secara empirik dan bukan hanya sekedar pemahaman yang bersifat teorektik.
Selanjutnya, penelitian tindakan kelas dilihat dari aspek profesionalisme guru dalm proses pembelajaran, memiliki manfaat yang sangat penting. Guru yang profesional tentu tidak enggan melakukan perubahan-perubahan dalam peraktik pembelajarannya sesuai dengan kondisi kelasnya. Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh guru untuk memahami apa yang terjadi dikelas dan kemudian meningkatnya menuju kearah perbaikan-perbaikan secara profesional. Bahkan dalam kontek profesionalisme guru, Mc Niff (1992:9) menyatakan bahwa dalam penelitian tindakan kelas guru ditantang untuk memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan proses-proses pembelajaran yang baru. Dengan demikian, tindakan-tindakan dalam penelitian tindakan kelas juga merupakan pendidikan bagi guru. Keterlibatan guru dalam penelitian tindakan kelas, maka secara tidak langsung dapat meningkataakan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran. 
Guru yang profesional perlu melihat dan menilai sendiri secara kritis terhadap praktik pembelajarannya dikelas. Dengan melihat unjuk kerjanya sendiri, kemudian direfleksikan dan lalu diperbaiki, guru pada akhirnya akan dapat otonomi secara profesional. Konsep penting dalam pendidikan ialah selalu adanya upaya perbaikan dari waktu kewaktu pada proses pembelajaran. Perbaikan pembelajran yang dapat dilakukan akibat dari diadakannya penelitian tindakan kelas akan memungkinkan bagi guru sebagai peneliti dalam penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan profesionalismenya secara sitematik dan sistemik.
Dengan tumbuhnya buda meneliti yang merupakan dampak bawaan dari pelaksanaan PTK secara berkesinambungan, maka abanyak manfaatnya yang dapat dipetik secara keseluruhan dapat diberi label inovasi  pendidikan karena pada guru itu semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional semakin mandiri. Dengan kata lain, prakarsa untuk melakukan inovasi hanya mengkin secara spontan muncul karena sebagai ujung tombak pelaksanaan lapangan, para guru semakin memiliki kemandirian yang ditopang oleh rasa percaya diri sehingga manjadi cenderung “lebih berani” mengambil resiko dengan mencoba hal-hal yang baru patut diduganya dapat membawa perbaikan. Pada gilirannya, rasa percaya diri tersebut tumbuh apabila guru memiliki semakin banyak pengetahuan yang dibangunnya sendiri dan memiliki teori yang dikembangkannya berdasarkan pengalaman.
Dipihak lain, prakarsa selalu mencoba hal-hal baru itu terjadi karena sebagai pekerja profesional, guru tidak mudah berpuas diri dengan rutinitas (complacent), melainkan selalu dipacu oleh dorongan untuk berbuat baik. Dengan kata lain, sebagai pekerja profesional guru selalu berusaha meraih lebih tinggi dari yang sekarang telah diraihnya (stretch) sehingga terbukalah peluang untuk terampilkannya kinerja yang meningkat secara berkesinambungan. Sebagaimna dikemukankan oleh Rapoport (1970), penelitian tindakan bertolak belakang dari kepedulian terhadap pemecahan persoalan-persoalan praktik yang dihadapi manusia didalam pekerjaannya sehari-hari.
Dalam pada itu, hanya inovasi yang “tumbuh dari bawah” seperti inilah yang benar-benar berangkat dari realita permasalahan yang dihayati oleh guru dikelas atau disekolah, bukan yang diinstruksikan dari atas (atau dilaksanakan karena “ada proyek”) yang paling berpeluang mengubah sosok kurikulum skspensial ke arah yang dikehendaki.
Bentuk kalin dari inovasi pendidikan karena dengan pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, PTK juga dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru untuk keperluan pengembangan kurikulum dalam arti luas. Dengan kata lain, sebagai pengajara guru juga harus bertanggung jawab terhadap pengembang kurikulum pada tingkat kelas dan mungkin juga pada tingkat sekolah. Untuk kepentingan pengambng kurikulum pada tingkat kelas, PTK akan sangat bermanfaat jika hasilnya digunakan sebagai salah satu sumber masukan. Sebagaimana dikemukakan oleh Elliot (1992), proses reformasi kurikulum secara teoretik tidak bersita netral. Sebaliknya, proses itu akan dipengaruhi gagasan-gagasan yang paling berhubungan mengenai hakikat pendidikan, pengetahuan, dan pengajaran yang hayati dilapangan. PTK dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan tersebut secara empirik (empirically-based) dan bukan hanya sekedar bersumber dari pemahaman yang bersifat teoriktik.

Pada akhirnya, inovasi pembelajaran “tumbuh dari bawah” danm itu dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan melalu peraturan-peraturan untuk tujuan serupa sebab penataran tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan persoalan pembelajaran khususnya dan implementasi program sekolah umumnya yang tengah dihadapinya, baik kurikulum maupun ekstra-kurikuler. Oleh karena itu, belakangan ini muncul gerakan yang dinamakan sechool-based-staf development atau upaya pengembangan staf yang diprakarsai di jenjang sekolah.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) | Ambar | 4.5