5 Peninggalan Sejarah Kolonial diIndonesia

Sebagai salah satu bangsa barat yang paling lama menjajah Indonesia, peninggalan sejarah belanda di Indonesia juga sangat banyak. Semua orang-orang Belanda datang ke Nusantara untukk kepentingan berdagang dan mencari rempah-rempah saja. Akan tetapi, dalam perkembangannya mereka mengubah menjadi penguasa.

Oleh kerena itu, pada tahap awal mereka membangun gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah di Banten, Jepara dan Batavia. Setelah memperoleh dukungan dari negeri Belanda dan mempunyai modal yang kuat, Vereenigde Oost-Indische Companie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan dan kantor dagang. Untuk menjaga keamanan bagi aktivitas dagangnya di perkuat dengan benteng pertahanan. Benteng ini mempunyai multifungsi, selain sebagai kantor dagang dan pemerintahan, juga bisa digunakan sebagai tempat tinggal.

Kehidupan orang-orang Eropa pada masa awal kehadirannya di Indonesai memang berada di dalam benteng. Setelah mereka mampu menguasai jalur perdagangan dan menaklukkan pusat-pusat kekuasaan, mereka baru berani mendirikan permukiman diluar benteng, VOC bahkan menggeser bentengnya dari kawasan Sunda kelapa ditepi Laut JAwa ke arah lebih dalam yang kemudian dekenal dengan Batavia.

Kehadiran bangsa barat di Indonesia telah mempengaruhi terciptanya kota-kota lama. Sejak awal kehadirannya di Indonesia, mereka membuat beragam sarana dan prasarana perkotaan. Secara umum, peninggalan koloni bisa dikelompokkan menjadi bangunan pertahanan, bangunan pemerintahan, bangunan religi dan bangunan hunian. Berikut ini beberapa peninggalan sejarah kolonial yang masih bisa kita lihat keberadaannya.

1. Bidang Militer dan Pertahanan

# Benteng Duurstede
Di bangun oleh Belanda pada tahun 1676 untuk menghadapai serangan bangsa Portugis. Pasukan pattimura pernah bertempur di benteng ini. Benteng berhasil direbut Pattimura pada tanggal 16 Mei 1817. Semua tentara Belanda termasuk Residen Van den Berg tewas.

Benteng ini semuala di bangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X yaitu Tunipallangga Uwalang. pada masa Raja Gowa XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara Raja Gowa yang berkuasa di dalam benteng tersebut dengan penguasa Belanda, Spleeman. Kekalahan Gowa membuat Belanda memaksa raja menandatangai “Perjanjian Bongaya” pada tanggal 18 November 1667.

Selanjutnya,Speelman memutuskan untuk menetap di benteng tersebut. Bentuk awal yang mirip persegi panjang kotak keliling oleh lima bastion, berubah mendapat satu tambahan bastion lagi di sisi barat. Nama benteng di ubah pula menjadi Fort Rotterdam, tempat kelahiran Cornelis Speelman.

# Benteng Vredeburg
Benteng ini di bangun tahun 1767, tetapi baru selesai pada tahun 1787. Setelah selesai, bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”. Pada tahun 1867, beberapa bangunan benteng rusak karena gempa bumi dahsyat.

Benteng Vredeburg

Nama Benteng Rustenburg kemudian diganti menjadi “Benteng Vredeburg” yang berati “Benteng pPerdamaian”. Nama ini diambil sebagai menifestasi hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dan Belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu.

# Benteng Marlborough
Banteng ini di bangun perusahaan India Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. benteng tersebut menghadap selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi. Bentuk benteng abad XVIII (1914) meyerupai kura-kura. Pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan kegerbang dalam. Fort Mariborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia.

Benteng Marlborough

Benteng Mariborough sesungguhnya bukan sekedar benteng pertahanan militer, tetappi juga demi kepentingan peragangan. Benteng ini berfungsi sebagai penjamin kelancaran persediaan lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, dan pengawas jalur pelayaran dagang melalui selat sunda. Benteng berperan ganda, yaitu markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.

2. Bidang Pemerintahan

Selain datang sebagai kongsi dagang, bangsa Belanda ternyata juga menjajah dan menguasai Indonesia. Secara resmi, mereka menjalankan pemertintahan di tanah jajahan. Oleh kerena itu, diberbagai daerah kini bisa kita temukan beragam bentuk peninggalan sejarah dalam bidang pemerintan.

Bangunan-banguan pemerintahan pada masa koloni selain mengusung gaya Eropa, ada diantaranya yang merupakan perpaduan Barat dan Timur (lokal). Semua direncanakan dengan matang sehingga membentuk sebuah kota yang lengkap dan terpadu, sesuai dengan keinginan kolonial.

# Standhuis
Standhuis atau yang dikenal dengan Taman Fatahillah merupakan balai kota lama. Gedug ini merupakan kantir gubernur jenderal saat VOC berkuasa di Indonesia. Gedung ini di bangun pada tahun 1707-1710. Bangunan balai kota ini serupa dengan Istanan Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap dibagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadillan, dan ruang–ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Museum Fatahillah

Banguanan ini selsesai dibangun tahun 1710 M dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeek. Perencanaan gambarnya oleh W,J. van der Velde dengan dikerjakan oleh J.Kemmer. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

# Istana Negara atau Istana Rijswijk

Istana Negara

Banguna ini mulai dibangun tahun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai tahun 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Istana ini semual merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha J.A. van Braam. Nammun, pada tahun 1820 rumah van Braam disewa  dan kemudian dibeli oleh pemerintah kolonial sebagi kantor dan tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan dibatavia (Jakarta).

# Istana Merdeka
Istana Merdeka mulai di banguan tahun 1873 pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Louden dan selesai tahun 1879 pada masa Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge.Awalnya bernama Istanan Gambir. Istana yang diarsiteki oleh Drossares ini pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia (RI) sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakkuan kedaulatan Republik Indonesai Serikat (RIS) oleh pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949.

Penandatangan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan A.H.J.Lovink, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesai. Istana ini kini juga menjadi pusat aktivitas pemerintahan  Republik Indonesia.

# Istana Bogor
Istana Bogor di bangun pada tahun 1745 atas inisiatif Gubernur Jenderal van Imhoff (1745-1750), kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750-1761. Bogor berasal dari kata Buitenzorg, artinya bebas masalah/kesulitan. Imhoff membuat seketsa sendiri dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat Kota Oxform di Inggris. Saat gubernur Jenderal Willem Dsendels berkuasa (1808-1811), istana tersebut diperluas.

Istana Bogor

Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) kemudian melengkapi dengan membuat sebuah menara ditengah-tengah bgedung induk. Saat terjadi gempa, bangunan ini mengalami kerusakan parah, selanjutnya direnovasi oleh Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856). Selain mengadopsi gaya arsitektur Eropa abad IX, ia juga menambah dua buah jembatan dan kayu yang menhubungkan gedung induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri. Akhirnya, kompleks istana tersebut baru selesai secara sempurna pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Mulai tahun 1870, Istanan Buitenzong ditetapkan sebagai kediaaman resi para Gubernur Jenderal Belanda.

# Gedung Sate

Gedung Sate

Gedung ini merupakan perpaduan antara gaya barat dan timur. Hal ini terlihat pada atap tumpangan yang terletak dibaguian atas. Gedung Sate karya J. Garber dibangun tahun 1916 dengan mengadopsi beberapa seni lokal yang banyak ditemukan di Hindia Belanda.

# Istana Gedung Agung
Untuk kepentingan jalannya pemerintahan, pemerintah kolonial juga membangun gedunggedung residen yang di bangun Belanda tersebut kini dukenal dengan nama Istana Gedung Agung di bangun pada tahun 1824. Saat Indonesia baru saja mmerdeka, gedung ini jadi kediaman presidan dan wakil presiden 1946.

Istana Gedung Agung

Ditempat inilah Bung Karno menjalankan aktivitas pemerintahan selama masa revolusi hingga diasingkan Belanda ke Bangka, Kini, bangunan ini menjadi salah satu istana kepresidenan Republlik Indonesia.

3. Bidang Hukum

Meskipun sifatnya menjajah, tetapi Belanda juga menjalankan aktivitas layaknya sebuah negara. Oleh karena itu, mereka juga membangun sarana yang mendukung jalannya pemerintahan di bidang hukum. Saat berkuasa pemerinyah kolonial Hindia Belanda memang secara ketat menjalankan hukum. Selain membuat undang-undang atau peraturan, mereka juga membuat alat-alat kelengkapannya seperti polisi dan penjara.

Penjara Sukamiskin

Dalam bidang hukum, Belanda membangun gedung kehakiman Jakarta dan penjara di bandung. Penjara ini kelak disebut dengan penjara Sukamiskin. Dipenjara inilah Bung Karnao ditahan setelah dinyatakan bersalah oleh landraad Bandung pada tahun 1929. Pidato pembelaanya yang dikenal berjudul Indonesia Klaag An atau Indonesia Menggugat.

4. Bidang Ekonomi

Peninggaln sejarah bidang ekonomi cukup banyak di Indonesia. Hal ini disebabkan misi pertama kehadiran Belanda ke Indonesia untuk kepentingan dagang. Selain membangun gudang dan benteng, pemerintah kolonial juga membangun beragam jenis sarana dan prasarana perekonomian. Peninggalan kolonial dalam bidang perekonomian diantaranya stasiun kereta api, pelabuhan, pabrik gula, dan beragam jenis toko.

# Stasiun Willem I

Museum Willem I

Stesiun kereta api pertam di bangun Belanda di Ambarawa, Jawa Tengah pada tahun 1800-1n. Stasiun ini dekenal dengan nama Stasiun Willem I. Nama ini di ambil dari nama Raja Belanda yang berkuasa saat itu. dsengan terbangunnya jaringan kereta api, penguasa kolonial lebih mudah dalam menemukan kebutuhan akan transportasi bagi perekonomiannya. Stasiun itu kini dijadikan Museum Kerta Api Jawa Tengah. Salah satu kereta api tercepat di dunia tersimpan didalam museum tersebut. Untuk kepentingan pariwisata, pihak pengelola stasiun masih menjalankan dua kereta api dengan gerbong terbuat dari kayu yang bisa digunakan oleh wisatawan.

# Pabrik Gula
Pebinggaln sejarah yang lain adal pabrik gula. Salah satu pabrik gula yang telah beroperasi sejak zaman Belanda hingga saat ini adalah pabrik gula Gondangwinangun. Pabrik ini dibangu pada tahun 1830, terletak di Klaten (antara Yogyakarta dan Surakarta). Pabrik gula lai yang di bangun pada zaman Belanda yaitu pabrik gula Cepiring, di bangun pada tahun 1835 terdapat di Cepiring Jawa tengah. Kedua pabrik tersebut serasa menjadi museum hidup yang bisa menunjukan kepada kita bagaimana upaya pemerintah kolonial mencukupi kebutuhan bagi usaha ekonominya.

# Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok di bangun kolonial Belanda pada tahun 1800-an. Penggaliannya di mulai pada tahun 1977 dan diresmikan pada tahun 1883. Selanjutnya lagi diperlebar lagi pada 1910-1911. Pelabuhan yang tertelah di tepi laut Jawa ini menjadi pintu gerbang utama kapal-kapal Belanda untuk datang dan mengambil kekayaan alam serta hasil perkebunan. Selain itu, dari pelabuhan ini pula Belanda mengirim tenaga kerja Jawa untukdiberangkatkan ke Sumatera dan Suriname untuk menggarap tanah perkebunan.

# De Javasche Bank

De Javasche Bank

Untuk emndukung kegiatan perekonomian, Belanda juga membangun lembaga Bank di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Salah satu bank yang terkenal pada zaman Belanda adalah De Javasche Bank. Bank ini di bangun pada tahun 1900-1n dengan menggunakan gaya Neo-Gotik. De Javasche Bank lah yang mengeluarkan uang-uang pecahan baik pecahan kertas maupun logam pada masa kolonial. Dalam perkembangakn selanjuytnya, dari Bank inilah kemudian berkembang menjadi Bank Indonesia.

Sementara itu, bank-bank lain juga di bangun Belanda di berbagai daerah diantaranya BNI 46 yang terletak di Yogyakarta (peremapatan jalan Malioboro, Yogyakarta), dan bank Indonesia yang terlatak di Surakarta. Hingga kini, kedau bank tersebut masih digunakan untuk mendukung perekonomian kita.

5. Bidang Kerohanian

Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia semula hanya untuk mendapatkan rempah-rempah dan berdagang. Dalam perkembangannya, merekapun menetap dan menjalani kehidupan di Indonesia. Oleh karena itu, mereka juga membangun beragam bentuk sarana peribadatan. Di berbagai daerah, Belanda membangun gereja dengan model arsitektur yang khas.

Gereja Immanuel

Gereja-gereja tersebut adalah gereja Immanuel (1834) dan Katedral di Jakarta serta Gereja Blenduk di Semarang, Jawa Tengah. Tiap-tiap bangunan memiliki ciri khas yang antik. Seperti pada Gereja Blenduk di bangun pada tahun 1778 dan selesai sekitar tahun 1814. Gereja tersebut berbentuk segi delapan dengan kudah yang sangat indah. Tiang-tiangnya terlihat sangat kukuh dengan menara lonceng bergaya Barok. Sementara itu, jendela dan pintunya tinggi menjulang khas bangunan gaya Eropa.

Demikian saya sampaikan lima peningglan Peninggalan Sejarah Kolonial diIndonesia, dengan adanya ulasan ini semoga kita bisa lebih mengenal dan mempelajari peninggalan-peninggalan sejarah di Indonesia..

5 Peninggalan Sejarah Kolonial diIndonesia | Ambar | 4.5